oleh: Joko Kriyanto / 952024055 / GKSD C
PPG Prajabatan 2024 Gelombang 1
Universitas Kristen Satya Wacana
Mengenali karakteristik peserta didik dan pembelajarannya adalah landasan utama menyusun pembelajaran saat ini. Dengan melakukan hal ini, guru dapat menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Guru dapat menyusun pembelajaran yang membuat peserta didik merasa aman dan nyaman. Peserta didik tidak merasa terdiskriminasi. Pembelajaran yang mereka alami cocok dengan kebutuhan mereka dan karakteristik mereka. Akhirnya, hasil belajar peserta didik akan maksimal dan memuaskan.
Namun, proses tersebut bukan tanpa kendala. Mengenali karakteristik peserta didik adalah salah satu hal menantang bagi guru-guru. Apalagi jika kelas yang diampu guru tersebut memiliki jumlah peserta didik yang banyak. Kadang guru tidak tahu karakteristik apa saja yang perlu digali dari peserta didik. Guru kadang kebingungan bagaimana cara mengetahui karakteristik peserta didiknya. Selain itu, guru kadang merasa tidak tahu bagaimana menggunakan informasi karakteristik peserta didik untuk mencapai hasil belajar optimal.
Berbicara tentang menggunakan informasi karakteristik peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru perlu memahami bahwa informasi ini adalah dasar perencanaan pembelajaran. Karakteristik peserta didik digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih model, metode, atau teknik pembelajaran serta jenis dan teknik asesmen. Di samping itu, informasi ini juga dapat digunakan untuk menentukan ruang lingkup materi.
Salah satu karakteristik yang digali dari asesmen awal adalah perkembangan sosial emosional. perkembangan sosial emosional adalah proses adaptasi anak dalam belajar memahami situasi dan esmosi dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitanya, mendengarkan, mengamati, dan meniru apa yang mereka lihat. Anak dengan perkembangan sosial dan emosional yang positif akan lebih baik dalam belajar dan lebih mudah untuk bergaul serta mengikuti kegiatan sosial lainnya.
Perkembangan sosial emosional positif dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran sosial emosional adalah salah satu pendekatan yang dapat mengembangkan aspek sosial dan emosional peserta didik.
Pembelajaran sosial emosional atau yang biasa disebut Social Emotional Learning (SEL) adalah proses belajar mengenali dan mengelola emosi, menyelesaikan masalah, mengembangkan relasi sosial yang baik, dapat berempati, serta membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.
Istilah SEL muncul bersamaan dengan organisasi bernama Collaborative of Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) pada tahun 1994. Namun, sebelum istilah ini muncul, beberapa program telah berjalan dengan framework yang hampir sama. Dimulai pada tahun 1968, Dr. James Comer dan kolega-koleganya di Child Study Center Universitas Yale menerapkan sebuah program yang mendukung “whole child” (keseluruhan anak) di New Haven, Connecticut. Hasil dari program ini adalah peningkatan akademik dan penurunan perilaku negatif. Selanjutnya, berdasarkan program tersebut, pada tahun 1987-1992, sekelompok peneliti dan pendidik yang dipimpin oleh Timothy Shriver dan Dr. Roger P. Weissberg, membuat program serupa yang menjadi cikal bakal SEL.
Menurut CASEL, ada lima kompetensi atau keterampilan sosial emosional (KSE) yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran sosial emosional. Kelima kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Self-Awareness (kesadaran diri)
Kemampuan untuk memahami emosi, pemikiran, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku dalam berbagai situasi. Dengan kata lain, kompetensi ini adalah kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan. Contohnya: peserta didi dapat menggabungkan identitias pribadi dan identitas sosial, mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri.
2. Self-Management (manajemen diri)
Kemampuan untuk mengatur emosi, pemikiran dan perilaku secara efektif pada situasi yang berbeda. Dengan demikian, kompetensi manajemen diri adalah kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi. Contohnya: peserta didik dapat mengelola emosi diri, menunjukkan disiplin dan motivasi diri, dan sebagainya.
3. Social Awareness (kesadaran sosial)
Kemampuan memahami perspektif yang berbeda termasuk berempati terhadap kondisi individu denga latar belakang yang berbeda. Dengan kata lain, kesadaran sosial adalah kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang budaya dan konteks yang berbeda-beda. Contonya: peserta didik dapat mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih, menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain dan sebagainya.
4. Relationship Skills (keterampilans sosial)
Kemampuan menjalin dan mempertahankan hubungan/relasi yang sehat dan efektif dengan individu dari latar belakang yang berbeda. Degnan demikian, keterampilan sosial adalah kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan supportif. Contohnya: peserta didik dapat mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif dan sebagainya.
5. Responsible Decision-Making (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
Membuat pilihan yang tepat dan konstruktif pada situasi tertentu. Dengan kata lain, responsible decision-making adalah kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Contohnya: peserta didik dapat berlatih membuat keputusan beralasan/masuk akal, setelah menganalisis informasi, data, dan fakta.
Untuk mengembangkan kelima kompetensi tersebut, ada tiga cara yang dapat ditempuh. Ketiga cara tersebut adalah sebagai berikut:
1. KSE diajarkan secara rutin, artinya KSE diajarkan secara eksplisit dan berkala. Biasanya kegiatan ini berada di luar kegiatan akademik. Misalnya, guru dapat menyiapkan kegiatan kokulikuler tentang cara meditasi dan mengenali emosi diri.
2. KSE diintegrasikan dalam mata pelajaran tertentu, artinya guru menyelipkan muatan-muatan KSE pada pembelajaran yang dilakukannya. Contohnya, pemberian kegiatan refleksi diri di akhir pembelajaran, atau kegiatan kolaborasi yang meningkatkan keterampilan sosial peserta didik.
3. KSE diintegrasikan dalam budaya sekolah, artinya guru dapat mengubah lingkungan sekolah menjadi lebih ramah anak. Guru dapat mengubah gaya interaksi mereka dengan peserta didik atau dengan mengubah peraturan yang mengakomodasi KSE.
Referensi:
https://casel.org/about-us/our-history/
Modul Pembelajaran Sosial Emosional PPG Prajabatan 2022
No comments:
Post a Comment